RSS

Love is Never Ending

22 Jan

“Ada apa dengan anakku, Dok?”

“Anakmu sepertinya merasa tertekan dengan semua keadaannya.”

“Maksud Anda?”

“Bukannya saya mencampuri atau mengkritik Anda, akan tetapi Julie merasa tertekan dengan semua peraturan yang Anda buat.”

“Saya tahu jika saya terlalu membuat peraturan ketat bagi Julie dengan tidak memperbolehkannya sekolah formal, keluar rumah, tapi itulah bukti sayangku pada anak yang kumiliki satu-satunya.”

“Saya sarankan, biarkan Julie bersosialisasi walaupun dia adalah salah anak orang kaya di Inggris. Mungkin memasukannya ke universitas?”

“Tapi universitas itu……”

“Ayah,”keluar Julie dari kamarnya.

“Julie, jangan keluar dulu. Kamu masih sakit,”khawatir ayah Julie.

“Kata dokter Charlie benar ayah. Aku tertekan dengan semua aturan ayah.”

“Lalu bagaimana ayah bisa membuatmu tak merasa tertekan?”

“Kirim aku ke Oxford University.”

“Oxford??”kaget ayah dan dokter Charlie.

“Iya. Itu salah satu universitas terbaik di dunia. Dengan begitu aku akan bisa mengenyam pendidikan administrasi bisnis.”

“Tapi kau akan ketahuan jika kau adalah anak dari………”

“Dari keluarga Watson yang terkenal dengan kekayaannya?”

“Nak, kamu bisa kan hanya home schooling saja.”

“Tuan Watson, biarkanlah Julie merasakan bisa berkuliah.”

“Tapi bagaimana caranya supaya Julie tidak diketahui identitas aslinya? Saya takut jika dia terancam dengan nama besar Watson di belakang namanya.”

“Aku akan menyamar.”

“Maksudmu, nona?”tanya dokter Charlie.

“Aku akan menjadi laki-laki.”

“Apa??!!”kaget ayah Julie.

“Dengan begitu semua orang tak akan mengenaliku. Ayah bisa mengurus identitasku kan?”

“Tuan Watson. Biarkan saya yang akan mengurus semua.”

Ayah Julie pun hanya berpikir sambil menatap putrinya yang cantik yang masih berusia 19 tahun itu. memang keinginan Julie untuk sekolah formal sudah ada sejak ia masih kecil. Namun karena ibunya yang sudah meninggal saat melahirkan Julie, membuat ayahnya sangat menyayanginya. Ayahnya sangat overprotektif dengan Julie, oleh sebab itulah ia selalu membuat aturan ketat untuk Julie.

“Ayah aku mohon.”

“Baiklah ayah mengijinkan. Tapi dengan satu syarat.”

“Apa itu ayah?”

“Jika ayah kenapa-kenapa, kamu harus pulang.”

“Baik ayah, aku akan berjanji.”

“Dokter Charlie, tolong urusi semua.”

“Baik, tuan. Sekitar 2 Minggu lagi kamu sudah bisa ke Oxford untuk mencari jurusan administrasi bisnis. Semua biaya hidupmu akan saya urusi.”

“Terima kasih, Dok.”

Seminggu kemudian……………….

“Ayah, aku berangkat,”pamit Julie kepada ayahnya dengan membawa koper di depan rumahnya.

“Haruskah kau tinggal di sebuah rumah sewa disana dan memotong pendek rambut coklatmu yang panjang itu?”

“Harus ayah agar semua mahasiswa disana tidak akan curiga denganku.”

“Tapi apakah kamu bisa bertahan disana?”

“Ayah. Tak perlu khawatir. Julie bisa menjaga diri,”kata Julie sambil memegang tangan ayahnya. “Selama 1 minggu ke depan, aku akan mencoba untuk bersosialisasi. Dan ayah tak perlu khawatir.”

“Ayah harap kamu tidak kenapa-kenapa disana.”

“Ayah…..”kemudian memeluk ayahnya.

“Jaga dirimu dan jika kamu kenapa-kenapa, maka ayah akan langsung menjemputmu.”

“Ayah jangan khawatir padaku.”

“Sudahlah. Berangkat sana,”kata ayah Julie sambil melepas pelukan Julie.

“Baiklah. Jaga diri ayah baik-baik. Ingat jaga kesehatan dan jangan terlalu bekerja keras.”

“Iya.”

“Nona, lebih baik kita segera berangkat,”ajak dokter Charlie.

“Oh,iya. Dah ayah….”sambil melambaikan tangannya kemudian masuk ke mobil.

“Dah,”sambil melambaikan tangannya juga.

Dalam perjalanan, Julie sudah tak sabar untuk bisa berkuliah. Itulah impiannya, menjadi orang biasa tanpa ada nama keluarga besarnya. Walau ia tahu di luar sana pasti berbahaya, namun karena impiannya yang besar dia tak memperdulikannya. Untuk pertama kalinya ia melihat sekeliling kota lewat jendela mobilnya. Semoga saja Oxford adalah tempat terbaik baginya.

“Nona, sebelumnya bawalah handphone, laptop, kartu kredit, dan peralatan untuk kuliah ini,”kata dokter Charlie sambil menyerahkan seluruh barang tersebut. “Nona, jika ada keperluan apapun gunakan kartu kredit ini dan jika ada apa-apa, tolong segera hubungi.”

“Wah tetap saja ada aturan ya?”

“Ini semua demi kebaikan nona. Oh iya nama nona sekarang adalah Julio Flemming.”

“Julio Flemming? Nama yang bagus.”

“Saya harap nona bisa menjaga diri disana.”

“Dokter sama saja dengan ayahku, terlalu mengkhawatirkanku,”kata Julie sambil tersenyum.

“Nona Julie seperti anak saya sendiri. Dari kecil nona saya rawat jika sakit jadi saya sangat menyayangi nona.”

“Dokter. Apakah di Oxford banyak orang kaya?”

“Pasti ada saja, tapi disana banyak orang memiliki kemampuan lebih dan tidak terlalu banyak orang kaya disana. Jadi tidak perlu khawatir.”

“Baguslah…”

“Nona kita sudah sampai di rumah sewa nona.”

“Ini ya? Cukup sederhana namun layak huni,”sambil melihat bagian luar rumah sewanya.

“Saya antarkan nona masuk.”

“Oh tidak perlu. Lebih baik aku sendiri saja masuk.”

“Jika itu mau nona, silahkan saja. Ini jadwal pelajaran di Oxford dan peta daerah kota ini,”sambil menyerahkan selembar kertas yang berisi jadwal pelajaran dan peta.

“Terima kasih,”kemudian keluar dari mobil. “Oh iya. Jaga ayah baik-baik dan bilang jangan terlalu bekerja keras,”tambahnya.

“Baik nona,”kemudian mobil dokter Charlie meninggalkan Julie.

“Hari ini merupakan langkah awal ku untuk menjadi orang biasa dan kini namaku adalah Julio bukan Julie. Rambut coklatku yang panjang harus aku potong demi penyamaran. Sedikit aneh, akan tetapi ini jalan satu-satunya agar aku tidak dikenali,”kata Julie yang sekarang bernama Julio dalam hati sambil mengelilingi bagian dalam rumah sewanya.

3 hari kemudian…..

“Hari ini, hari pertama masuk kuliah. Aku harus bersiap-siap,”sambil mengambil tas ranselnya kemudian pergi keluar untuk mencari taksi.”Taksi!!”

“Anda mau kemana?”tanya supir taksi.

“Ke Oxford.”

“Oh silahkan naik.”

“Tapi berapa ongkosnya?”

“Hanya 10 dolar.”

”Baiklah,”kemudian masuk ke dalam taksi.

“Anda orang baru?”tanya supir taksi sambil melihat Julio (Julie) dari kaca mobil.

“Iya. Anda tahu?”

“Pasti tahu karena saya hafal betul orang sekitar sini. Saya sudah 20 tahun menjadi supir taksi,”kata supir taksi dengan nada membanggakan diri.

“Wah cukup lama. Oh perkenalkan nama saya Julio Flemming.”

“Namaku Danny Hammer.”

“Senang bertemu denganmu tuan Hammer.”

“Panggil aku Hammer saja.”

“Oke, Hammer.”

“Sekolah di Oxford?”

“Iya aku mahasiswa baru. Aku mengambil jurusan administrasi bisnis.”

“Wah pasti kamu orang hebat.”

“Oh tidak.”

“Sudah sampai,”sambil menghentikan laju mobilnya.

“Oh sudah sampai,”keluar dari taksi sambil memberikan 10 dolar ke Hammer si supir taksi. “Ini Hammer. Terima kasih karena telah mengantarkanku.”

“Sama-sama. Oh iya jika kamu butuh taksi telepon saja nomor telepon ini,”kata Hammer sambil menyerahkan sebuah kartu nama.

“Wah, Anda supir taksi yang baik.”

“Sampai jumpa, Julio.”

“Sampai jumpa, Hammer,”sambil melambaikan tangannya.

Sesampainya di Oxford University, Julio masuk ke pintu gerbang. Dia mencari ruang bagian informasi. Setelah berkeliling cukup lama, akhirnya dia sampai di depan ruangan tersebut. Saat masuk terlihat seorang wanita separuh baya duduk di sebuah meja kerja sambil membuka selembaran berkas-berkas yang mungkin saja itu berkas penting Oxford.

“Selamat pagi,”beri salam Julio.

“Selamat pagi. Ada yang bisa saya bantu?”tanya ramah wanita itu.

“Nama saya Julio Flemming. Saya mahasiswa baru disini.”

“Oh kamu mahasiswa baru itu ya? Perkenalkan namaku Flo Rosemarry. Silahkan duduk.”

“Terima kasih,”kemudian duduk di kursi di depan bangku nyonya Rosemarry.

“Nah apakah kamu mau bersekolah sekarang?”

“Tentu saja.”

“Kalau begitu ikut aku,”beranjak dari kursinya dan kemudian mengajak Julio naik ke atas untuk mencari sebuah ruangan yang dimana ruangan itu adalah kelas Julio. “Ini kelasmu.”

“Tok,tok,tok…”

“Masuk!”teriak seorang pria.

“Tuan White, ini adalah murid baru disini.”

“Benarkah? Silahkan masuk anak muda.”

“I-iya.”

“Siapa namamu?”

“Julio Flemming.”

“Julio? Seperti nama orang Yunani.”

“Kalau begitu, aku serahkan anak ini padamu.”

“Okey,”sambil tersenyum ke nyonya Rosemarry. “Anak-anak!!! Kita kedatangan mahasiswa baru. Nak, perkenalkan dirimu.”

“Halo namaku Julie eh maksudku Julio, Julio Flemming. Senang berkenalan.”

“Baiklah Julio, kamu duduk disana. Ingat anak-anak, buat Julio merasa nyaman.”

“Baik, Pak.”

Setelah itu, Julio berjalan menuju bangku yang dituju Pak White, dosen di kelas Julio. Ternyata dia duduk di sebelah pria tampan berambut coklat dan mengenakan pakaian casual. Sungguh tampan. Itulah kata Julie dalam hati saat melihat pria itu untuk pertama kali.

“Hai namamu Julio ya? Perkenalkan namaku William Hendrick, tapi kau bisa panggil aku Will,”sapa Will terhadap Julio.

“Hai ,Will.”

“Kau pindahan darimana?”

“Dari-dari….. Irlandia,”gugup Julio.

“Wah Irlandia ya….. Ku harap kamu betah disini karna anak-anak disini congkak-congkak semua. Apalagi Pak White, dia dosen paling killer disini,”bisik Will.

“Oh begitu.”

“Kau juga harus rajin-rajin belajar soalnya banyak orang pintar disini. Sedikit saja bodoh kamu bisa sangat ketinggalan.”

“Kalau begitu, mohon bantuannya.”

“Baiklah Julio, ku anggap kau sebagai juniorku dan aku seniornya,”sambil membusungkan dada dan tersenyum.

“Will!!!!!! Bisa diam kamu??!! Jangan ngobrol!!!”marah Pak White.

“Baik, Pak. Ingat ya aku seniormu.”

“Iya,”senyum Julio.

“Teng,teng,teng,teng….”

“Hey Julio, habis ini kamu mau kemana?”tanya Will.

“Pulang ke rumah.”

“Rumahmu dimana?”

“Jalan Orchid 23, kenapa?”

“Jalan Orchid?! Berarti rumah kita dekat. Kamu tinggal di rumahmu?”

“Tidak, aku tinggal di rumah sewa.”

“Wah sama. Lebih baik kita pulang sama-sama.”

“Tapi…..”

“Hey, aku ini seniormu pasti kau tidak tahu jalan sekitar sini. Setelah pulang, kita akan berjalan-jalan. Ku ajak kau makan lasagna terenak di kota ini.”

“Terserahlah.”

“Kalau begitu, LET’S GO.”

“Eit, tunggu dulu. Kita belum berkenalan.”

“hey wanita genit, jangan ganggu Julio.”

“Will,Will,Will. Aku ini bukan wanita genit tapi aku wanita tercantik disini. Perkenalkan namaku Cleo Quinnshley. Mereka temanku Jessica Bass dan Fiona Woods.”

“Hai!!”sapa Jessica dan Fiona.

“Hai aku Julio,”sapa balas Julio.

“Kau tidak seperti seorang pria?”sambil memperhatikan wajah Julio.

“Mak-maksudmu?”

“Kulitmu putih, mulus dan tampak lembut.”

“Be-benarkah?”

“Seperti kulit seorang wanita,”kata Fiona.

“Iya dan dia sangat manis dan juga cute,”tambah Jessica.

“Itu karena dia bersamaku jadi dia bisa seperti ini,”kata Will.

“Impossible, dia manis karena dia di takdirkan menjadi pacarku.”

“So confident you are!! Ayo Julio kita pergi,”kemudian Will dan Julio pergi meninggalkan 3 wanita tersebut. Mereka keluar mencari taksi. Will mengajak Julio ke sebuah restoran bernama “Break Time”. Disana mereka duduk dan kemudian memesan makanan.

“Tempat apa ini, Will?”

“Ini yang ku bilang restoran yang memiliki lasagna terlezat di kota ini.”

“Lasagna? Apa itu?”

“Kau tidak tahu lasagna?!”

“Aku tidak pernah makan itu jadi aku tidak tahu.”

“Kalau begitu kau harus cicipi. Sebentar. Pelayan!!!”

“Iya tuan mau pesan apa?”

“Saya mau pesan 2 lasagna dan 2 orange juice.”

“Baik, tunggu sebentar,”kemudian pergi.

“Lasagna disini paling lezat. Meskipun kamu belum pernah makan, tapi setelah kamu cicip lasagnanya kamu pasti pengen nambah lagi.”

“Benarkah?”

“Ini lasagnanya dan orange juice, tuan. Silahkan,” kata pelayan restoran sambil menyerahkan 2 porsi lasagna dan 2 gelas orange juice.

“Terima kasih.”

“Ini namanya lasagna?”

“Iya. Coba aja.”

“Aku coba deh,”kemudian memotong kecil lasagnanya kemudian ia cicipi.

Saus Lasagnanya langsung melumer dimulut Julio setelah ia memakannya. Terasa enak. Belum pernah ia makan makanan seenak ini. Rasanya ia ingin terus makan dan makan lagi. Will pun tidak merasa heran dengan kerakusan Julio yang memakan Lasagna itu karena memang lasagnanya enak. Will memperhatikan Julio terus sambil menyantap lasagnanya juga.

“Enak kan?”kata Will setelah mereka menyantap habis lasagna dan orange juice mereka.

“Iya. Sungguh enak.”

“Ayo kita pulang. Kapan-kapan aku akan mengajakmu ke tempat-tempat menarik lainnya, dan setiap hari kita akan berangkat dan pulang kuliah sama-sama.”

“Berangkat dan pulang kuliah sama-sama?”

“Rumah kita kan dekat? Ingat ! Aku ini seniormu!”

“Terserah kamu saja, Will.”

Selama 3 tahun, Julio dan Will terus akrab. Ada Julio pasti ada Will, ada Will pasti ada Julio. Setiap hari mereka selalu bersama, mereka seperti kakak-adik saja. Julio sangat suka sifat Will yang santai dan tak pernah berputus asa. Will pun juga suka dengan sifat Julio yang tak banyak omong dan sangat lucu. Mereka memiliki kepribadian yang cocok. Untuk pertama kalinya Julio atau Julie memiliki teman laki-laki seperti Will. Dia baru pertama kali merasakan bisa berteman dengan seorang teman atau mungkin lebih tepatnya sahabat. Jika Julio kesepian atau merasa sedih, Will akan menghiburnya. Kadang-kadang dia merasa aneh. Dia merasakan bahwa ia sangat membutuhkan dan tidak mau berpisah dari Will. Apa itu cinta? Apa mungkin Julie (Julio) jatuh cinta dengan Will? Mungkin. Tapi Julie memendam perasaan itu karena ia berpikir Will tidak mecintainya.

“Hai, Julio!”panggil Will sambil menepuk pundak Julio.

“Kau mengkagetkanku.”

“Ada rencana gak malam ini?”

“Ng-nggak. Kenapa?”

“Kita ke danau yuk. Disana kita akan naik perahu kecil.”

“Gimana ya?”sambil berpikir.

“Ayolah. Kau belum pernah kesana kan?”

“Masalahnya, aku tidak bisa berenang,”bisik Julio di telinga Will.

“Hahahahahahaha,”tertawa Will. “Kita tidak berenang tapi kita naik perahu dan mendayungnya sendiri. Kau ada-ada saja.”

“Tapi jika perahunya terbalik, kita kan tenggelam.”

“Tidak usah khawatir. Ayo,”ajak Will sambil menarik tangan Julio.

Mereka berangkat ke danau dengan menggunakan taksi. Perjalanan yang ditempuh sekitar 15 menit. Dalam taksi Julio berpikir, “Jika aku tenggelam bagaimana? Aku kan tidak bisa berenang. Aduh gawat!”. Julie dari kecil memang tidak pernah diajarkan berenang, itu karena aturan ayahnya yang ini-itu. Akan tetapi setelah melihat Will di dalam mobil yang sedang melihat pemandangan kota sambil tersenyum kecil lewat jendela taksi, Julio sedikit merasa tidak khawatir dengan semua itu.

“Dimana danaunya?”tanya Julio setelah sampai.

“Itu,”sambil menunjuk sebuah danau buatan yang airnya bening.

“Yang itu?”

“Iya. Ayo,”sambil menarik tangan Julio dam mengajaknya naik perahu kecil.

“Aman?”

“Aman, tenang saja,”kemudian mereka berdua naik perahu itu dan mulai mendayung.

Mereka mendayung perahu yang mereka naiki sampai di tengah danau. Setelah di tengah danau mereka tidak mulai mendayung lagi, karena mereka ingin melihat pemandangan danau dan pohon-pohon oak yang mengitari danau. Sungguh indah. Serasa berada di sebuah tempat yang nyaman tanpa ada siapa pun disana.

“Indah bukan?”tanya Will.

“Aku akui memang indah.”

“Hah….. udara disini sejuk. Tidak seperti di kota, sangat berdebu,”kata Will sambil menghirup udara di danau yang sejuk.

“Tapi aku masih takut. Lihat, kapal ini bergoyang.”

“Tak usah khawatir.”

“Eit, dayungnya…”kaget Julio yang melihat dayung mereka hanyut menjauhi kapal mereka.

“Cepat ambil, jika tidak kita tidak bisa pulang.”

“Sedang aku ambil,”kata Julio sambil mengulurkan tangannya untuk menggapai dayung yang mulai menjauh. Tiba-tiba….

“Byur!!!!”

“Will!! Tolong aku,”teriak Julio yang jatuh ke danau.

“Julio!! Tunggu sebentar aku akan menolongmu!!!”

“Cepat Will!!!”

“Bagaimana aku harus menolongnya??!! Terpaksa aku harus berenang,”kemudian menceburkan diri ke danau dan meraih badan Julio. Setelah itu Will membawa Julio ke pinggir danau.

“Julio sadar!!!”teriak Will sambil menepuk pipi Julio yang pingsan.

Karena Julio yang tidak sadar-sadar, Will mulai memberi napas buatan namun Julio tidak kunjung sadar. Akhirnya Will membuka kancing baju Julio untuk mengeluarkan air dari paru-parunya, akan tetapi setelah Will membuka kancing baju Julio sesuatu mengkagetkannya. Dada Julio bukan dada seorang laki-laki melainkan dada seorang perempuan yang dililiti kain putih dan panjang. Will sangat tercengang dengan semua itu namun ia tepiskan semua itu. Yang harus ia lakukan sekarang adalah menolong Julio yang pingsan.

“Dimana aku?”kata Julio yang mulai sadar.

“Kau di rumahmu. Tadi kau tenggelam di danau,”kata Will sambil mengeringkan pakaiannya yang basah dengan handuk.

“Tenggelam?”tanya Julio sambil mengingat-ingat kejadian tadi. Kemudian dia ingat jika saat dia tenggelam ia diselamatkan oleh Will dan Will juga memberi pertolongan dengan napas buatan dan……..membuka kancing baju Julio. Mengingat itu, ia langsung terperanjat dari tempat tidurnya. “Tadi, kamu membuka kancing bajuku?”tanya Julio dengan nada ketakutan.

“Iya dan aku punya satu pertanyaan?”kemudian menghampiri Julio yang masih ada di atas tempat tidurnya dan Will duduk di kursi di samping tempat tidur Julio. “Apa kau ini perempuan?”

“A-apa?”

“Kau perempuan atau bukan?”

“Aku bisa jelasin semua.”

“Perempuan ya…. Ternyata dugaanku selama ini ternyata benar jika kau adalah perempuan, Julio”

“Namaku Julie, Julie Watson. Aku bisa ceritakan semua.”

Julio atau mungkin ia harus memakai nama Julie, menceritakan semuanya. Dari alasannya melakukan ini sampai alasannya untuk melakukan penyamaran, ia ceritakan semua. Will hanya mendengar ceritanya dengan baik-baik walau tatapan matanya seperti sedikit kesal karena temannya sendiri telah menipunya.  Will juga tahu jika Watson adalah keluarga terkaya di Inggris. Apa yang harus Will lakukan? Membenci Julio yang telah membohonginya kah? Atau menganggap tidak ada kejadian apa-apa?

Saat bercerita, Julie mulai menitikan air mata karena ia merasa bersalah karena telah membohongi Will, sahabat dekatnya dan mungkin orang yang ia cintai. Semoga saja Will mau memaafkan kebohongan yang telah ia perbuat. Ia sangat merasa bersalah dan ia juga takut jika Will akan membencinya.

“Jadi kau ini bukan laki-laki?”

“Bukan.”

“Ku kira aku akan punya teman yang bisa aku Andalkan, ternyata tidak. ku kira kamu adalah orang yang jujur!!”kata Will yang berdiri dari kursinya.

“Tapi Will. Semua ini ku lakukan supaya aku bisa jadi orang biasa,”bela Julie.

“Kau sama saja dengan mahasiswa yang lain!!”kemudian pergi meninggalkan Julie dan keluar dari rumahnya.

“Will!!!”

Semalaman Julie menangis, sampai-sampai Julie tidak masuk kuliah. Will tidak peduli itu karena dia masih merasa sakit hati dengan perbuatan Julio (Julie) yang telah membohonginya. Sementara itu di rumah, Julie seperti orang yang kebingungan. Ia ingin minta maaf tapi ia takut jika Will tidak akan memaafkannya. Lalu bagaimana carabya agar Will mau memaafkannya?

“Kring,kring,kring”

“Halo dokter Charlie. Ada apa?”

“Ayahmu sakit, Jul. ayahmu memintamu agar cepat pulang.”

“Sakit apa?”

“Penyakitnya belum pasti tapi kau harus cepat-cepat pulang.”

            “Baik sekarang aku akan berkemas-kemas.”

“Nanti mobil dokter akan menjemputmu.”

“Iya, Dok. Aku akan cepat-cepat kesana.”

Julie pun mengemasi semua pakaiannya. Ia sangat khawatir dengan keadaan ayahnya yang sakit. Ia berusaha cepat-cepat mengemasi barang-barangnya. Dan akhirnya mobil dokter Charlie pun datang. Tanpa basa-basi, Julie langsung masuk ke mobil setelah mengunci pintu rumah sewanya.

Seminggu kemudian…………

“Hey lihat di majalah. Kabarnya Julie, putri dari keluarga Watson akan segera menikah dengan Joe Kingston, pengusaha muda yang tampan itu,”kata Cleo di dalam kelas.

“Tidak mungkin! Aku juga mau kalau seperti itu,”kata Jessica.

“Wah beruntung sekali si Julie itu, akan menikah dengan pengusaha tampan dan kaya di Eropa,”tambah Fiona.

“By the way, sudah seminggu ya Julio si laki-laki cute itu tidak masuk,”heran Jessica.

“Iya, kenapa ya? Jangan-jangan dia sakit,”kata Fiona.

“Sakit atau mungkin jangan-jangan di pindah universitas?!”prediksi Cleo.

“Duh jangan dong…”kata Jessica dan Fiona.

Tanpa sadar pembicaraan Cleo dan teman-temannya di dengar oleh Will. Ia kaget saat mendengar jika Julie akan segera menikah. Dan mungkin saja Julie tidak akan pernah kembali ke Oxford. Tapi kenapa Will merasa kecewa dengan semua itu? Bukannya seharusnya dia biasa-biasa saja perasaannya.

“Lantas saja seminggu dia tidak masuk. Atau mungkin dia sengaja keluar universitas karena aku?”tanya Will ke dirinya sendiri saat melewati rumah sewa Julie yang sudah kosong.

***

            “Pemirsa Julie Watson anak dari Bob Watson akan menikah dengan Joe Kingston pengusaha sukses dan tampan di Eropa. Kemungkinan pernikahan mereka akan dilaksanakan bulan depan saat musim gugur nanti. Banyak mengatakan bahwa Julie dan Joe memang pasangan serasi apalagi mereka sering terlihat sedang berjalan-jalan bersama. Kita doakan saja agar pernikahan mereka berjalan lancar dan supaya mereka bahagia.”

            “Kenapa semua channel televisi memberitakan tentang mereka berdua,”kesal Will. “Lebih baik aku tidur,”kemudian merebahkan diri ke tempat tidurnya.

Dalam tidurnya dia bermimpi tentang kejadian saat Julie tenggelam. Dia melihat dirinya sendiri yang membentak-bentak Julie yang sedang menjelaskan maksud dia melakukan kebohongan itu. Will melihat Julie yang menangis tapi Will masih membentaknya dan kemudian meninggalkannya. Karena mimpi buruk itu, akhirnya ia terbangun.

“Semua ini salahku. Seharusnya aku tidak memarahinya. Julie maafkan aku,”sesal Will. “Bagaimana aku bisa menebus kesalahanku?”kemudian berpikir. “Aku akan rumahnya. Aku akan minta maaf dan aku akan mengatakan jika sebenarnya aku……………….mencintainya.”

Di kediaman Watson…………

“Ayah kenapa menjodohkanku dengan Joe?!”tanya Julie di ruang tamu.

“Kau harus cepat-cepat menikah untuk meneruskan usaha keluarga kita. Ayahmu sudah tidak mampu mengurusinya semua.”

“Aku mencintai laki-laki lain, ayah.”

“Siapa?!”

“Dia orang biasa dan dia kuliah di Oxford juga.”

“Kau sudah gila! Kau harus menikah dengan lelaki yang sederajat denganmu.”

“Ayah!!”

“Kau harus menikah dengan Joe titik!!!”kemudian meninggalkan Julie.

“Ayah aku mohon!!!”kata Julie yang mulai menangis. “Will, seandainya kau ada disini. Aku merindukanmu, Will. Kau ada dimana? Apa kau tidak merindukanku?”

“Nona, di depan gerbang ada yang mencarimu,”kata pelayan rumah Julie.

“Siapa?”tanya Julie sambil mengusap air matanya.

“Dia bilang namanya Will, nona.”

“Will?!”

“Iya, nona. Dan sekarang ayah nona sedang bertemu dengannya.”

“Ayah bertemu dengan, Will?”kemudian lagsung menuju gerbang rumahnya.

“Siapa kau?”tanya ayah Julie ke Will.

“Nama saya William Hendrick, Pak. Saya ingin bertemu dengan Julie.”

“Ada urusan apa bertemu dengan anakku?”

“Saya ingin meminta maaf.”

“Kau tidak bisa menemuinya. Dia sedang mempersiapkan pernikahannya.”

“Kumohon tuan, hanya sebentar.”

“Tidak!!”

“Will!!!”panggil Julie yang menghampiri Will dan ayahnya.

“Julie.”

“Kumohon ayah. Beri kami waktu untuk bicara.”

“Tidak!”

“Tuan Watson kumohon beri saya waktu sebentar saja untuk berbicara dengan Julie,”pinta Will sambil berlutut di bawah ayah Julie.

“Iya ayah, kumohon,”pinta Julie yang juga ikut berlutut.

“Baiklah. Kuberi waktu 3 menit saja.”

“Baik, tuan. Julie aku minta maaf karena dulu aku memarahimu, aku sangat menyesal.”

“Aku juga minta maaf karena telah membohongimu, Will.”

“Julie, aku kesini juga ingin mengatakan bahwa aku mencintaimu.”

“Waktu habis. Pengawal bawa Julie ke dalam rumah.”

“Siap, tuan. Ayo nona kita masuk.”

“Tidak!!”

“Seret dia ke dalam rumah, pengawal.”

“Siap, tuan.”

“Julie!!”teriak Will.

“Will!!! Aku juga mencintaimu!!!”kemudian ia dipaksa masuk ke dalam rumah walaupun dia sudah meronta-ronta agar ia dilepaskan.

“Pengawal bawa dia keluar!”

“Siap tuan,”kemudian menyeret Will keluar dari rumah Julie.

Setelah kejadian itu, Will seperti orang yang berputus asa. Ia kembali ke rumah orang tuanya dan tidak berkuliah lagi. Ia sangat merindukan Julie. Karena selalu memikirkan Julie, dia akhirnya jatuh sakit. Badannya kurus karena dia tidak mau makan. Hanya Julie lah obat bagi sakitnya itu. Orang tua Will sangat prihatin dengan keadaan Will. Sudah dokter demi dokter yang mereka datangi namun Will tak kunjung sembuh juga. Sampai akhirnya Will meninggal karena sakitnya itu.

“Nona. Anda pasti senang karena sekarang akan menikah. Lihat ke cermin nona, Anda tampak cantik dengan gaun yang nona kenakan,”puji pelayan Julie.

“Benarkah?”kata Julie dengan nada pelan sambil melihat dirinya sendiri di cermin.

“Oh iya nona. Tadi ada yang datang mengantarkan surat ini untuk nona,”sambil menyerahkan sepucuk surat.

“Dari siapa?”

“Saya juga tidak tahu. Kalau begitu saya pergi dulu, nona,”kemudian meninggalkan Julie.

“Tak ada nama pengirimnya,”kemudian mulai membaca surat itu.

“Dear Julie,

Julie setelah membaca surat ini berarti aku sudah meninggalkanmu untuk selamanya. Semenjak kejadian di rumahmu itu, aku terus memikirkanmu sampai-sampai aku jatuh sakit. Saat sakit aku berharap kamu bisa datang menjenguk ku dan aku bisa sembuh karena kehadiranmu. Namun sudah sebulan kau tak kunjung datang untuk menjenguk  ku. Mungkin saat ini kau akan senang karena akan menikah dengan seorang lelaki yang akan membahagiakanmu daripada aku yang selalu menyakitimu. Semoga pernikahan kalian akan berjalan lancar dan kalian bisa hidup bahagia untuk sekamanya.

Salam,

Will “

“Will?? Will jangan tinggalkan aku!”kata Julie mulai menitikan air mata. “Kenapa kau secepat ini tinggalkan aku!”teriak Julie.

“Kau kenapa, Julie,”kaget ayahnya yang melihat Julie menangis.

“Will, ayah.”

“Kenapa dengan dia?!”

“Dia meninggal ayah.”

“Sudah, Nak. Hapus air matamu dan kita akan berangkat ke gereja.”

“Tapi, Yah.”

“Jangan pikirkan pemuda miskin itu lagi!”

Ayah dan Julie pun segera berangkat menuju gereja tempat pernikahan mereka berlangsung. Dalam perjalanan, Julie masih saja menangis saat mendengar bahwa Will telah meninggal karenanya. Dia tidak bisa berkata apa pun mengenai kejadian yang menimpa Will.

“Ayah, bolehkah aku ke makam Will dulu sebelum ke gereja?”tanya Julie.

“Tapi, Nak.”

“Aku mohon ayah, ini permintaanku terakhir sebelum aku menikah.”

“Tapi hanya sebentar saja kan?”

“Aku hanya ingin meminta maaf di makam Will.”

“Kau tahu dimana makamnya?”

“Pasti ada di sekitar daerah di alamat ini. Pak tolong ke alamat ini dan cari makam daerah sekitar alamat ini.”

“Baik, nona.”

Setelah berkeliling mencari makam di sebuah daerah, akhirnya Julie sampai di sebuah makam yang terawat. Disana ia melihat sebuah makam yang masih terlihat baru dan dengan rangkaian bunga berduka cintanya yang masih bagus. Ia yakin jika makam itu adalah makam Will. Julie keluar dari mobil dan berlari kecil menuju makam itu walaupun dia kini memakai gaun putih panjang yang menutupi seluruh bagian kakinya.

“Will, ini kau? Sudah kutebak ini pasti makammu,”sambil berlutut di samping makam Will dan kemudian mengelus batu nisan makam Will. “Maafkan aku Will, semua ini karena salahku. Kau terus memikirkanku dan kemudian jadi jatuh sakit. Will apa kau di surga bisa bahagia tanpaku? Will, I always waiting you to pick me up to the heaven with you in here,”kata Julie yang kemudian merebahkan kepalanya di atas makam Will setelah itu ia memejamkan matanya.

Saat Julie memejamkan matanya seperti tertidur, ia bermimpi jika Will datang mengenakan pakaian jas putih  dan kemudian mengelus rambutnya. Ia tidak berkata apa pun namun Julie seakan mengerti dengan maksud kedatangan Will. Will datang karena ingin menjemput Julie untuk pergi ke surga bersamanya. Julie pun berdiri dan pergi bersama Will menuju tempat damai disana sambil bergandengan tangan. Julie di dunia nyata yang sedang memejamkan matanya di atas makam Will, tidak membuka matanya lagi. Jiwa Julie pergi bersama jiwa Will menuju surga yang damai disana. Tiba-tiba muncul 2 kupu-kupu yang entah darimana asalnya mengitari Julie dan makam Will. Mungkin saja 2 kupu-kupu itu adalah Julie dan Will yang sudah bahagia disana. Di surga sana dimana mereka bisa bersama sampai akhir dunia yang akan datang.

( Inspirated by San Pek and Eng Tay Story )

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 22, 2012 in Little Story

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: